<< Selamat Datang di Blog Paguyuban Sempurna Bahagia 44 Pekalongan ~ Menjalin Silaturahmi dengan Semangat Membangun Seduluran yang Hakiki dan Sejati >> << Selamat Datang di Blog Paguyuban Sempurna Bahagia 44 Pekalongan ~ Menjalin Silaturahmi dengan Semangat Membangun Seduluran yang Hakiki dan Sejati >>
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 April 2022

Kisah Nyata

*Tidak ada Kebaikan yang sia-sia*

_(Doa yang memaksa Tuhan)_

* Saat  kuliah di Bandung, aku pernah terdesak oleh masalah perut. Lapar. 

Karena kiriman belum datang. 

Kiriman orang tua mestinya cukup.

Karena manajemen buruk, akhirnya ludes sebelum waktunya.

* Subuh itu aku berdoa sangat khusyuk..

Saat itu aku berdoa dengan cara menagih.

Aku pikir kalau Tuhan itu Maha Besar, 

mosok nggak sanggup membayarkan tagihan yang remeh ini. Gengsi dong. 

Dan yang aku sebut menagih adalah mengungkit-ungkit peristiwa belasan tahun silam.

* "Tuhan,  Engkau pasti ingat waktu ibuku masih mengajar di SD, ibuku mendapati seorang muridnya yang sering pingsan karena perutnya kosong. 

Sejak itu ibuku menyuruh anak itu tiap pagi sarapan di rumahku sebelum ke sekolah. 

Kalau itu kebaikan, sekaranglah saat yang paling tepat buat Engkau untuk membalasnya. Kalau Kau ingin aku lebih beriman, sekaranglah kesempatan yang terbaik".

* Aku merasa Tuhan sudah terpojok dengan doaku itu,  maka siangnya aku pun melangkah tenang ke Warteg terdekat untuk menyambut jawaban Tuhan. 

Aku pesan nasi satu porsi lebih dan disiram kuah gratisan serta lauknya kripik tempe.

* Semua  berjalan seperti biasa. Tak ada tanda-tanda bakal terjadi sesuatu yang dramatis seperti dalam sinetron TV. 

* Keringat dingin mulai menetes. 

Kulihat wajah-wajah di dekatku, semuanya sedang lahap. 

Tak ada wajah malaikat yang diutus Tuhan membayar tagihanku.

Yang kutangkap adalah wajah seorang tentara yang matanya langsung galak dan tak sengaja mataku menabrak matanya. 

Sepertinya pangkatnya rendahan, makanya suka pamer kekuatan. 

Dia sampai mendekatkan duduknya ke arahku. 

Dia menanyaiku dengan suara yang dipaksakan berat dan menakutkan.

"Heh! Orang mana kamu?!" gertaknya.

* Untuk menyebut kota asalku Pemalang, pasti banyak yang tidak tahu. Pemalang itu kota kecil yang sangat biasa dan tak punya apa-apa untuk dikenal. 

Maka kujawab saja,

"Jawa Tengah".

"Jawa Tengah? Kota mana?" kejarnya lagi. "Kabupaten Pemalang", jawabku gemetar. "Kecamatan?" 

Busyet dia masih ngejar lagi. 

"Kecamatan Petarukan", jawabku tambah bingung.

"Desanya mana?" tanyanya lagi lebih meneror. "Desa Serang". jawabku pasrah.

* Mendengar nama desaku, dia menatap mataku menyelidik. 

Lalu matanya berpindah melihat ke piringku.

Sehembusan nafas ia bangkit meninggalkanku.  

Huff. Aku lega tak terjadi apa-apa.  

Aku tak berani melirik-lirik dia lagi. 

Dalam hati aku ngedumel,

"Tuhan, kalau tak mau mengutus malaikat, jangan mengutus setanlah. Biasa aja, dong."

* Braaakk!  Asem, 

tentara itu lagi, duduk di sebelahku. 

Tapi, wajahnya mulai melunak.

"Hus. Kowe Serang-e ngendi? Anakke sapa?" tanya dia dengan suara yang kontras dengan sebelumnya. 

Lembut dan nyeduluri, bahkan kini dia ngomong Jawa ngapak semedok-medoknya.

* Kawan, kalau kau sebatang kara di rantau, maka ketemu orang yang sebahasa denganmu itu rasanya kayak lebaran. 

Aku seperti pulang dan mendengar tetanggaku sedang berisik sambil cari kutu. 

Aku seperti terdampar ke suasana pagi di-soundtrack- penyiar radio dangdut yang medok. Aku bahkan seperti mencium bau pesing tanah bekas anak-anak kampungku kencing.

* Dan suara "Brakk" tadi adalah suara mangkuk berisi opor ayam yang diletakkan agak tergesa di atas meja. 

Mangkuk itu kini bergeser ke arahku begitu aku menyebut nama orangtuaku.

* "Nih, dimakan. 

Ora usah mbayar".

Hahahaha...

Aku seperti mendengar malaikat ketawa-tawa. 

"Baru dikasih laper dikit aja udah berani nagih Tuhan,  berani memojokkan Tuhan. Rasaiiin lo!"

* Tentara itu lalu memperkenalkan siapa dirinya.

"Aku disik murid ibumu". Matanya berkaca-kaca menerawang jauh menghindari tatapan langsung.

"Ibumu galak. 

Tapi kalau nggak galak, mungkin banyak yang gak lulus, termasuk aku. 

Yang khas dari ibumu, sebelum mulai pelajaran selalu bertanya ke murid-muridnya, siapa yang belum makan?"

"Aku salah satu murid yang selalu kelaparan kalau ke sekolah, untung ada ibumu". 

Dia tak kuat juga akhirnya menyeka matanya.

* "Warteg iki duwekku. Usaha sampingan. Kalau kamu laper makanlah di sini. Tidak usah sungkan. Anggaplah aku perpanjangan tangan ibumu".

* Angin Bandung yang dingin seketika menghangat. 

Kurasakan kasih sayang ibuku menembus melampaui ratusan kilometer, Pemalang - Bandung. 

Menyuapi anaknya yang sedang lapar.

* Sejak itu kami langsung dekat. Seperti saudara  lama yang baru saling menemukan. 

Dia, seterusnya menjadi pelindungku selama di Bandung.

* Tuhan.. Ternyata gampang sekali terpojok oleh kebaikan yang dilakukan makhluknya. 

Tak tega untuk tidak  menolong siapa pun yang dalam dirinya bersemayam kebaikan. 

Satu kebaikan dibalas seribu kebaikan. 

Seperti hari itu dan seterusnya, aku memanen kebaikan yang pernah ibuku tanam belasan tahun silam, meski hanya sekedar memberi makan.

Kisah Nyata

*JENDERAL ADOLFO ROBERTO*

Setiap sipir penjara membungkukkan badannya serendah mungkin ketika 'Algojo Penjara' itu berlalu di hadapan mereka.

Karena kalau tidak, sepatu 'Jungle' milik tuan Roberto itu akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar suara seseorang membaca Ayat2 Suci Alqur'an yang amat ia benci. 

"Hai ... hentikan suara jelekmu ! Hentikan ...!!!" Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakkan mata.

Namun apa yang terjadi ?

Lelaki di kamar tahanan tadi tetap saja membaca & bersenandung dengan khusyu'nya

Roberto bertambah berang.

Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yg sempit.

Dengan congak ia meludahi wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang.

Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dgn rokoknya yg menyala.

Sungguh ajaib ...! tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. 

Bibir yg pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata kepatuhan kepada sang Algojo. 

Bibir keringnya hanya berkata lirih, _"Robbi, wa-ana 'abduka ..."

Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, 

"Bersabarlah wahai ustadz ... Insya Allah tempatmu di Syurga."

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, 'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya.

Ia perintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. 

"Hai orang tua busuk...!!

Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu ?!

Aku tidak suka apapun yang berhubungan dengan agamamu....!!!"

Sang Ustadz lalu berucap, "Sungguh ... aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah SWT.

Karena kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemui-Nya.

Maka patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk ?

Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk orang2 yang zhalim".

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajahnya.

Laki-laki itu terhuyung-huyung.

Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah.

Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'Buku Kecil'. 

Adolfo Roberto bermaksud memungutnya. 

Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat.

"Berikan buku itu, hai laki-laki dungu !", bentak Roberto.

"Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini !", ucap sang ustadz dgn tatapan menghina pada Roberto.

Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. 

Sepatu laras berbobot dua kilogram itu iaj gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. 

Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati.

Namun tidak demikian bagi Roberto. 

Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. 

Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. 

Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh

Mendadak algojo itu termenung dan berkata dalam hatinya :

"Ah ... sepertinya aku pernah mengenal buku ini.

Tapi kapan ??

Ya, aku pernah mengenal buku ini." suara hati Roberto bertanya-tanya.

Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu.

Jenderal berumur 30 tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. 

Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. 

Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol.

Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustadz yang sedang sakarat melepas nafas-nafas terakhirnya. 

Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam.

Mata Roberto rapat terpejam.

Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang di alaminya sewaktu masih kanak-kanak dulu.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto.

Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini. 

Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). 

Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa.

Beribu-ribu jiwa kaum muslimin yg tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. 

Di ujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. 

Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.

Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. 

Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua.

Bocah mungil itu mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. 

Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang Ummi (ibu) yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti abaya hitamnya.

Sang bocah berkata dengan suara parau,

"Ummi.. ummi.. mari kita pulang. Hari sudah malam.

Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa ....?

Ummi, cepat pulang ke rumah ummi ..."

Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. 

Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. 

Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.

Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya, _"Abi ... Abi ... Abi ..."

Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

"Hai ... siapa kamu?!"_ teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah.

"Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi ..." jawab sang bocah memohon belas kasih. 

"Hah ... siapa namamu bocah ??

Coba ulangi !!!"

bentak salah seorang dari mereka

"Saya Ahmad Izzah ..."_ sang bocah kembali menjawab dengan rasa takut. 

Tiba-tiba "plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah. 

"Hai bocah ...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek.

Aku benci namamu.

Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus.

Namamu sekarang 'Adolfo Roberto' ...

Awas !

Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!"_ ancam laki-laki itu.

Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata.

Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar dari lapangan Inkuisisi. 

Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sadar dari renungannya yang panjang. 

Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. 

Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. 

Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. 

Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris, "Abi... Abi ... Abi ..!!."

Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.

Pikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. 

Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapaknya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. 

Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bagian pusarnya.

Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah.

Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini. 

Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, 

"Abi ... aku masih ingat alif, ba, ta, tsa ..."

Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. 

Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat orang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya. 

"Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu ..."

Terdengar suara Roberto memelas.

Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. 

Air matanya pun turut berlinang. 

Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini. 

Sungguh tak masuk akal. 

Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap.

"Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy.

Belajarlah engkau di negeri itu".

Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah "Dua Kalimah Syahadat..!

Beliau pergi menemui Robbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang di bumi yang fana ini.

*******

Beberapa tahun kemudian.....

Ahmad Izzah telah menjadi seorang Ulama Besar di Mesir. 

Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agama Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya.

Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru dunia berguru kepadanya ... Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Sang Ulama berpesan kepada Seluruh Umat Islam se dunia:

Jangan engkau pilih Pemimpin yang menzhalimi para Ulama dan Jangan kau pilih pemimpin yang suka berdusta.

Firman Allah Ta'ala:

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

(QS. 30:30)

*******

Semoga Kisah Nyata ini menjadi Iktibar bagi kita, untuk berfikir, bersikap, bertindak, dan berpihak kepada Kebenaran yang Hakiki. Karena harta, pekerjaan, pengaruh, pangkat, jabatan, dan kesenangan hidup di dunia ini, hanya sesaat...hanya  benar-benar menjelang ajal kita datang.

*Ingat baik-baik Sang Ulama berpesan kepada seluruh Umat Islam se dunia*:

*Jangan engkau pilih Pemimpin yang menzhalimi para Ulama dan Jangan kau pilih pemimpin yang suka berdusta/bohong.*

_*Wallahu'alam...*_

Kisah Nyata Sedekah

 KISAH NYATA 

#Sedih Bacanya Siapkan Tissue Ya? 😭

Seorang isteri ditinggal suaminya kerja.. Suami pulang sabtu dan minggu.. Saat ditinggal kerja.. 

ditinggal uang buat kebutuhan seminggu..!! Saat itu hari sabtu pagi.. Suaminya pulang sabtu siang... Uang tinggal 25 ribu... 

Rencananya mau dibelanjakan memasak kesukaan suami... 

Tetapi tiba-tiba ada seorang nenek tua yang bawa pisang.., 

Nenek itupun menawarkan,

"Bu dibeli pisang ini.. 

terserah berapa, 

yang penting saya ada ongkos buat naik bis pulang..!!!" 

Wanita itu bingung.. 

Uang tinggal 25 rb, 

dan dia tidak suka pisang, 

juga suaminya tidak suka pisang.. 

tapi hatinya ingin memberi..!! 

Dengan BISMILLAH.. 

diberikan Uang 25 ribu.., 

dan pisangnya suruh bawa daripada tidak kemakan..!! 

Nanti suami masakkanlah seadanya di dapur..," 

pikirnya..!! 

Sampai di dapur, 

ternyata beras habis, 

kulkas tida ada isinya.. 

telur satupun tidak ada.. 

kopi habis.. 

Gula habis.. 

dia nangis krn tidak bisa masak... 

Mau pinjam paling , 

ntar dimarahin suaminya juga.. 

dan tidak ada bukti pisang untuk alasannya.., 

dia tidak bisa belanja hari ini.. 

sangat bingung.., 

takut dan tidak tahu mau ke mana..!!! 

Yang bisa dilakukan hanya wudhu dan sholat...

"YA ALLAH SAYA TIDAK BERBUAT SALAH MENURUT SAYA... 

YA ALLAH SAYA PASRAH... 

SEMOGA SAYA SABAR DAN KUAT JIKA NANTI SUAMIKU MARAH TIDAK ADA MAKANAN DAN KOPI..!!!"

Dan ternyata jam 11 suaminya datang... 

Keringat dingin bercucuran.. 

muka pucat.. 

tidak berani menatap suaminya... 

Senyum terpaksa... 

dan menahan tangis... 

hanya bisa sambut dengan air putih... 

itupun dengan gemetar memberikannya.., 

suami tanya,"Kamu sakit Bu..? 

Koq pucat..?" 

Isterinya menjawab, "Tidak."

Dan buru-buru ke belakang.., 

Suaminya pun memanggil.. 

Si isteri makin gemetar.. 

"BU..!!" 

Serasa mau pingsan si isteri menghampiri suami..!! 

Suamipun menyapa, 

"Duduk Bu.." 

Isteri merasa langit seakan runtuh... Suami bertanya, 

"Belum masak ya..??" 

Tangis isteri tidak bisa dibendung lagi... 

Maafkan aku Pak... 

Aku salah... 

aku tidak minta izin dulu... 

karena saya iba sama nenek itu... 

jadi aku kasihkan.., 

tiba tiba suaminya memotong pembicaraan isterinya.., 

"Apaan sihhh..."

Tangis isteri makin menjadi dan tidak bisa ditanyain..!!! 

Suaminya bertanya, 

"Kamu kenapaaa nangis.. 

sakit?.. 

nenek siapa..?? 

Maksud aku.. 

Kalau belum masak.. 

Kebetulan, 

aku beli nasi dan ayam goreng lengkap dengan urap dan lalapan.., 

anak anak pasti suka.. 

oh iya aku belikan soto juga kesukaanmu... 

Ini Uang 25 juta.. 

Proyek bapak yang bulan lalu selesai penghitungannya.., 

yang 10 juta tak bawa.. 

buat servis motor, benerin kamar mandi.., 

tidak apa-apa kan tidak semuanya ke ibu..?? 

Tanya sang bapak..!!!

Si isteri makin menjadi nangisnya.. 

dan turun sujud syukur..

Setelah itu mendekap di pangkuan suaminya... 

Isteri berkata ,

"Saya keluarkan 25 ribu..

selang tiga jam diganti sama ALLAH 25 juta.."

ALLAHUAKBAR..!!! 

INDAHNYA SEDEKAH..!!! Dan barangkali yang membaca tulisan ini juga menangis. 😭😭😭

Semoga menjadi inspirasi buat kita untuk tetap memberi. Aamiin..!!!

Yaa Allah jadikanlah saudaraku Semuslim Dermawan,Yakinlah Rezeki Itu Jaminan Allah SWT.

Selasa, 21 September 2021

Anak adalah Titipan

Anak bukan jaminan hidup kita bahagia!

Sangat menginspirasi buat saya kisah ini 😊

*HANCURNYA HATI SEBAGAI ORANG TUA*.....

(Kisah nyata untuk Renungan)

Di Kabupaten MAGELANG JAWA TENGAH ada seorang JANDA karena  suaminya telah meninggal dunia. Dengan gajinya sebagai GURU, dia membesarkan anak laki-laki satu²nya seorang diri. Anaknya sangat PATUH pada orangtuanya.

Dengan kerja keras, akhirnya, sang Ibu berhasil menyekolahkan anaknya itu sampai ke Amerika Serikat. Setelah tamat kuliah, anaknya bekerja di Amerika, beli rumah, dan menikah, serta telah dikaruniai seorang anak, dan HIDUP BERKECUKUPAN SERTA HARMONIS

Ibunya masih tetap tinggal di Pasir Pengaraian meneruskan pekerjaannya, seorang diri. Namun dia berencana: SETELAH PENSIUN nanti, ia ingin pindah ke Amerika, BERKUMPUL dengan anak dan menantunya, untuk MENIKMATI MASA TUANYA.

Tiga bulan sebelum tiba masa pensiun, dia menulis surat kepada anaknya: MEMBERITAHUKAN NIATNYA, untuk berkumpul bersama-sama di Amerika.

Dalam angan-angannya: SETELAH MEMBESARKAN ANAKNYA, maka di hari tua, anaknya pasti akan "MENJADI SANDARAN HIDUPNYA".

DALAM KHAYALANNYA, Saudara² dan kerabat²nya pasti akan KAGUM atas KESUKSESANNYA dalam MENDIDIK ANAK, dan IA akan BAHAGIA DI HARI TUANYA.

Sambil menunggu SURAT BALASAN dari anaknya, dia menyelesaikan semua masalah dan aset²nya di Pasir Pengaraian untuk siap² pindah ke Amerika.

Tibalah SURAT BALASAN dari anaknya: Ternyata di dalam amplop  terselip selembar cek 30 ribu USD dan selembar surat yang berbunyi: "Mama, hasil diskusi saya dan istri, kami putuskan KAMI "TIDAK SIAP" MENERIMA MAMA untuk tinggal bersama kami di Amerika, karena adat istiadat di sini.

Jika Mama berpikir bahwa Mama sudah BERJASA  telah MENGASUH saya, maka berdasarkan perhitungan KURS SEKARANG, kira² Mama sudah MENGELUARKAN BIAYA lebih kurang 20 ribu USD (biaya mengasuh anak, hingga saya bisa seperti sekarang).

Karenanya saya kirim cek 30 ribu USD (saya lebihkan 10 ribu USD), untuk Mama, dengan harapan: Mama TIDAK LAGI menulis surat kepada saya.

HANCUR LULUH HATINYA setelah membaca surat itu. TAK DISANGKA anaknya akan berbuat seperti itu, INGIN rasanya ia untuk BUNUH DIRI.

Akhirnya dia MERENUNG UNTUK MENERIMA KENYATAAN maka sadarlah dia, dan BANGKITLAH SEMANGATNYA.

Dia GUNAKAN uang 30 ribu USD itu untuk BIAYA KELILING DUNIA. Dia senang BISA MELIHAT INDAHNYA alam di dunia ini.

Lalu ditulisnya sepucuk surat untuk anaknya: Anakku, kamu mau Mama tidak menulis surat lagi untuk kamu, maka ANGGAPLAH surat ini sebagai pelengkap kalimat yang kurang dari surat² Mama sebelumnya. Mama TELAH TERIMA ceknya, dan telah menggunakannya untuk biaya "tour keliling dunia". 

Dalam perjalanan tour itu, tiba² Mama merasa, HARUS BERTERIMAKASIH kepada kamu naaak.

TERIMAKASIH karena kamu telah mengajarkan Mama untuk MENGIKHLASKAN, MELEPASKAN, dan MELIHAT dengan nyata tentang: KASIH SAYANG  KELUARGA, SAHABAT, dan PASANGAN.

*Dalam kehidupan manusia, semua yang di dunia itu TIADA YANG ABADI. Semuanya sedang dalam PROSES PERUBAHAN*.

Jika Mama TIDAK MENGIKHLASKAN, atau masih MERASA MENDERITA karena PERLAKUANMU terhadap Mama, maka mungkin dalam setahunan ini Mama telah MENINGGAL DUNIA dikarenakan BUNUH DIRI

Dan dalam neraka akan bertambah seorang SETAN yang mati PENASARAN dan Mama tidak mau jadi seperti itu.

KETIDAK BERPERASAANmu telah MENYADARKAN Mama, bahwa: HUBUNGAN SESAMA MANUSIA hanya karena TAKDIR untuk BERKUMPUL, yang kemudian dapat BERPISAH. Semuanya TIADA YANG ABADI, TIADA YANG KEKAL.

Mama sekarang sudah menganggap TIDAK PUNYA ANAK, hati Mama sudah bebas, Mama pun sudah TIDAK PUNYA RASA KEKHAWATIRAN lagi. Mama sudah IKHLAS, Mama sudah hilangkan semua SAKIT HATI.                               

*PEPATAH MENGATAKAN: RUMAH ORANGTUA selamanya adalah RUMAH ANAK,* tetapi *RUMAH ANAK BUKANLAH* rumah orangtua.

*MELAHIRKAN ANAK merupakan TUGAS YANG WAJIB* *DILAKSANAKAN. NAMUN MENGASUH ANAK ADALAH  TUGAS SOSIAL* karena terkadang harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan anak.

*TAPI, MENGANDALKAN ANAK DI USIA SENJA merupakan KESALAHAN   FATAL*

Pelajaran baik untuk direnungkan, agar kita tidak terlalu mengharapkan BALAS BUDI dari anak dan saudara di hari tua.

**SEMOGA BERMANFAAT, SALAM BAHAGIA DI HARI TUA BAGI YANG SUDAH PENSIUN*.....💪🏿💪🏿💪🏿_____________________________

inilah Kodrat: Anak adalah titipan.

Paguyuban Sempurna Bahagia 44 Pekalongan

Murotal Al Qur'an 30 Juz

Postingan Ter Populer